Jumat, 19 Agustus 2016

Untuk Sahabat Kami (Aku) Yang Memilih "Pergi"

Kurang lebih sudah hampir 2 tahun kita tidak saling menyapa, bahkan selama itu juga kamu tiada kabar. Kepergianmu bagaikan ditelan bumi, jauh kedalam sampai kami pun tak bisa menemukan jejakmu lagi. Bukankah kita memulai persahabatan ini atas dasar sayang?

Entahlah, itu hanya bagi kami yang masih rindu atas kehadiranmu. Kami ingin bertemu denganmu lagi, menuntaskan rasa rindu yang sudah memuncak. Tapi, sampai sekarang kami juga belum bisa menemukan keberadaanmu. Yang kami tahu, sekarang kamu sedang sibuk-sibuknya bekerja di sebuah toko ternama.

Tak bisakah kamu mengirim kabar pada burung merpati atau hanya sekedar menitipkan rindu pada angin. Tapi yang pasti, kami selalu mendoakanmu di setiap sujud kami.
Oh ya, sebenarnya kami ingin segera mengubur kenangan tentang dirimu yang tak tau diri itu. Tapi kami tak bisa atau memang kami tak ingin bisa. Sebagai sahabatmu yang berbagi suka-duka di waktu kita masih sekolah dulu, di Madrasah Aliyah dengan seribu problema.

Masih ingatkah kamu perkataan mu di saat detik-detik kita setelah perpisahan, dan memulai untuk melangkah mencapai impian kita masing-masing? Kamu berkata bahwa kita harus tetap menjalin komunikasi walau sesibuk apapun kita. Ingat! itu kamu loh yang bilang. Namun nyatanya, kamu sendiri yang memutuskan komunikasi pada kami.

Kemana perginya sahabat kami yang dulu? Masihkah kamu mengingat kami? Sudah tak perlu dijawab, kamu tentu masih mengingat kami, bukan? Atau kamu sudah tak ingin tahu apapun mengenai kami.
Kamu bilang kami adalah sahabatmu, lalu mengapa kamu tak pernah memberi kabar tentang bagaimana hidup yang sedang kamu jalani sekarang? 
Bukankah Persahabatan itu seperti Tangan dan Mata. Ketika tangan terluka, maka Matapun ikut menangis, dan ketika Mata menangis, maka Tanganlah yang selalu bersedia untuk menghapus air mata yang jatuh.

Aku merindukan kebersamaan kita dahulu, apa kamu sudah lupa? Selalu ada moment kebersamaan yang kita abadikan dalam sekedar foto selfie. Kamu ingat, awal kita saling kenal, hingga kita putuskan untuk menyebut "ke-kita-an" kita sebagai "sahabat"
Betapa seringnya kita melakukan hal bersama. Mulai dari main bareng, makan, cerita tentang masa depan kita, sholat dhuha di musholla, banyak sekali. Karena kebersamaan kita tak pernah absen dari keberadaan kita, ada aku ada kalian. -Aisyah Arsyad-

Untuk Sahabat kami yang memilih pergi, Kembalilah segera…..
Kami merindukan sahabat kami yang dulu.

Selasa, 09 Agustus 2016

Mama, You're the Queen of My Heart




Bismillaahirrahmaanirrahiim

Aku dan Mama, hampir tak ada privasi diantara kami. Apapun yang ku lakukan, seberat dan sekecil apapun masalahku, mama selalu mendengarkan keluh kesah ku. Mendengarkan kisah asmaraku, mendengarkan cerita pertengkaranku dengan teman-teman ku, mendengarkan pengalamanku ketika pergi di suatu tempat yang baru aku kunjungi. Mama adalah orang yang siap sedia menjadi pendengar untukku.

Begitupun sebaliknya, mama pun selalu menceritakan keluh kesahnya, bahkan tak sungkan untuk meminta saran dan pendapat dari anak gadisnya ini. Awalnya, aku dan mama tidak begitu akrab. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usiaku, aku menyadari bahwa mama adalah everything untukku.

Ketika mama mengandung adikku, Syahrul. Aku melihat secara langsung bagaimana perjuangan mama, mulai saat dia mengalami muntah-muntah, mengandung, sampai melahirkan. Mama adalah sosok yang luar biasa, sangat luar biasa. Dulu, mama sering memarahiku dan aku sempat berfikir mama tidak sayang dengan aku Dan ketika Syahrul di lahirkan, aku melihat air mata keluar dari mata mama, air mata haru dan bahagia. Disitulah fikiran "mama tidak sayang denganku" hilang dalam benakku. Mama sayang padaku, sayang dengan semua anak-anaknya. Terlihat jelas ketika anaknya telah lahir ke dunia. Semua paradigma negatif tentang mama yang selama ini ku fikirkan, ah.. bodohnya aku! Mama.. maafkan anakmu ini.

Aku ingin melihat mama mengenakan kain kerudung, pasti akan terlihat cantik. setiap kali aku menanyakan, "Maa, kapan pakai kerudung?", Mama dengan malu menjawab, "Nanti, kalau Syahrul sudah besar.". Ah.. mama ku ini. Aku selalu mendoakanmu agar hatimu tergerak untuk memakai kerudung, karna aku sayang mama, aku ingin bersama-sama mama tidak hanya di dunia, tapi di akhirat kelak. Aamiin.., Berkumpul kembali bersama keluarga kecil kita, Mama, Bapak, Fatimah, Syahrul, dan Aku. Semoga dalam waktu yang dekat ini, mama akan bilang padaku, "Mama sudah mantap memakai kerudung, Nak!". Bahagianyaa... Love you maa..

Maa..
Aku minta maaf untuk semua yang pernah ku lakukan padamu, yang selalu mengecewakanmu, membuat marah, bahkan aku pernah membuatmu menitikkan air mata karna ulahku.
Maa..
Maafkan aku yang sering bertutur kata yang tidak santun kepadamu, maafkan aku yang pernah membentakmu. Membuat hatimu sakit, sungguh maafkan aku...

Terima kasih untukmu, mama..
Wanita yang paling berani yang pernah mempertaruhkan nyawanya untukku, untuk adik-adikku.
Uhibbuki Fillaah Umi, Saranghae Eomma, I love You Mama.. <3

Minggu, 07 Agustus 2016

Kenangan bersama Bapak




Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kangen waktu masih kecil dulu, sering nonton tivi bareng bapak. Dulu kami paling suka nonton film Box Office Movies di Trans Tv atau di Global Tv. Kalau sudah nontoon film kami bisa lupa waktu, alias begadang. hhih..

Aku paling inget, bapak itu dulunya suka mandi malam, namanya juga anak kecil yah pasti mau ikutin apapun yang di lakukan bapak. Kalo bapak selesai mandi aku bilang "Pak, saya juga mau mandi malam". hhehe.. awalnya gak di izinin tapi setelah berkali-kali bilang mau mandi malam juga, bapak izinin deh. itupun cuma sekali dua kali. hhah..

Kangen..
Kalo nonton sama bapak biasanya juga aku ketiduran. Kalo sudah ketiduran si bapak gendong aku ke tempat tidur, hheh itu moment yang paling indah. Kadang aku juga pura-pura ketiduran biar bisa di gendong sama bapak.

Rasanya, aku ingin kembali di masa itu. Masa dimana aku tertidur di depan tivi dan esok paginya saat aku bangun telah berada di atas kasur. ^_^

Aku menyadari bahwa seluruh paksaan yang engkau lakukan semata-mata hanya karna memikirkan masa depanku, iyakan? Tapi, saat pilihanku tidak sesuai dengan keinginan bapak , bapak tetap tersenyum dan mendukungku.

Untuk sosok yang pertama mengumandangkan azan di telingaku, sosok yang pertama gelisah ketika aku sakit,  yang mengajarkanku membaca, mengenalkanku pada Allah dan Rasulullaah shallallahu'alayhi wa sallam, sosok yang biasa ku panggil dengan sebutan Bapak.
Terima kasih ku ucapkan karna telah menjadi super hero ku, menjadi the first love ku, dan membuatku jatuh cinta setiap hari denganmu... Ana Uhibbuka Fillaah yaa Abati
😍😍😍

Jumat, 15 Juli 2016

Inilah caraku, Halalkan atau Tinggalkan aku!

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Aku berusaha untuk tidak mengkhianatimu, dengan menjaga janji yang pernah terucap. Namun, sebelum janji itu terpenuhi izinkanlah aku menjalani hidupku sendiri, kaupun begitu, dengan hidupmu sendiri.
Meskipun kau menganggapku egois dan tidak menghargaimu, bahkan mengatakan aku lupa dengan janji kita, tapi inilah caraku. Aku tidak ingin mengotori cinta yang ada di hati ini, tak ingin hasutan syetan mengambil kesempatan untuk menodai cinta ini. Biarkanlah kisah ini berjalan, tanpa ada komunikasi, tanpa ada pertemuan, hingga tiba saatnya kita bersama menjalani cinta yang sebetulnya.
Yakinlah, ini akan menjadi kisah kita yang sangat indah. Tak perlu kita cemburu pada mereka yang menjalin cinta yang belum halal, tak perlu iri pada mereka yang bergandengan tangan namun belum ada ikatan yang sah. Jika kita seperti mereka, hanya kerugianlah yang kita dapat. Sabarlah menanti, ini hanyalah persolan waktu saja. Teruslah berjuang dan di sini akupun terus akan selalu mendoakan mu hingga perjuanganmu tidak sia-sia. Dan setelah saat itu tiba, kita akan bergandengan tangan dengan mesra dan penuh kasih sayang. Mereka yang telah menghina kita, yang telah meremehkan kita akan melihat betapa indahnya kisah kita.
Aku akan menerima semua kekuranganmu, meskipun seringkali aku selalu pesimis dan kadang tidak menerima kekuranganmu yang membuatku tidak yakin untuk hidup bersamamu. Tapi, akan ku tepis semua itu. Aku akan menerima kekuranganmu, karna akupun memiliki kekurangan yang pastinya tidak kau sukai. Iyakan? Dengarlah... aku tidak peduli lagi. Karna dengan melihat perjuanganmu, kau adalah orang yang menyayangi aku dengan tulus. Terima kasih untuk itu semua.
Maafkan untuk semua keegoisan ku, tak ada niat untuk membuatmu marah dan sakit hati. Tidak. Aku hanya berusaha mengendalikan hati ini, meski seringkali kelihatan kasar. Aku sering menyesali hal itu. Tapi inilah caraku agar hati ini terjaga hingga kita menjadi pasangan yang halal. Aku tidak ingin selalu terjebak dalam hasutan setan yang membuat kita lupa bahwa apa yang kita lakukan itu adalah sebuah kesalahan. Tidak sebelum kita menjadi pasangan yang halal. Aku hanya ingin kita menjaga hati dan perasaan ini tanpa ada komunikasi dan pertemuan intens, sebelum akad terucap aku tak ingin kau memberiku perhatian yang lebih, aku tak ingin mendengar kata-kata indah itu, aku tak ingin kita seperti mereka, para aktivis pacaran. Aku ingin kisah kita menjadi kisah yang indah, biarlah semua itu kita lakukan setelah menjadi pasangan yang halal. Dan apapun yang kita lakukan asal tidak membuat Alloh murka pada kita, itu akan menjadi ibadah dan bernilai pahala. Bukankah itu sangat romantis?
Dan kelak, kau akan mencium keningku dengan penuh kasih sayang menatap mataku dengan penuh cinta, dan mengungkapkan semua isi hatimu, mengatakan “terima kasih telah menjaga janji kita” mengatakan bahwa kau sangat mencintaiku. Dan akupun akan memeluk mu, dan berbisik kepadamu “duhai kau yang sudah memperjuangkan aku, ketahuilah bahwa akupun sangat mencintaimu. Terima kasih untuk kisah yang indah ini sayang”
Ah.. rasanya begitu indah, semoga perjuangan dan doa kita terkabulkan dan Alloh meridhoi kita, merestui kita, dan mempertemukan kita dengan cintaNya. Tolong jaga hatimu hingga tiba saatnya, akupun begitu namun ketahuilah meskipun kau tak menerima caraku ini, tapi inilah aku dengan caraku sendiri. Disini aku akan menantimu, menjemput diriku menjadi bidadarimu..


Senin, 11 April 2016

Cinta Pertama (?)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Cinta pertama..
Aku bertanya pada diriku, siapa cinta pertamaku?
Apakah cinta pertama itu adalah seseorang yang pernah menjadi pacar pertamaku?
Ah.. aku rasa bukan! bahkan kalau di fikir, akupun tidak ada rasa cinta dengan dia.
Lalu, siapa cinta pertamaku?
Bukan dia yang pernah menjadi pacarku, itupun bukan rasa cinta tapi hanya nafsu sesaat!
Bahkan, bukan juga dia yang terakhir menjadi pacarku!
Lalu, siapa?

Cinta pertama..
Aku rasa, aku akan menjadikanmu cinta pertamaku.
Seseorang yang akan datang mengkhitbahku
Seseorang yang akan menjabat tangan ayahku, dan mengucapkan ijab qabul
Seseorang yang kelak akan menjadi misua ku.
Seseorang yang akan menjadi abah dari anak-anakku
Seseorang yang akan menafkahi kami
Seseorang yang akan menjadi pemimpin keluargaku

Cinta pertamaku..
Ku nantikan dirimu menjemputku menjadi bidadarimu
Tak sabar ingin ku katakan bahwa dirimulah cinta pertamaku..

UHIBBUKA FILLAH CALON ZAUJI KU.. <3

Aisyah Ummu Abdillaah
senin, 11-April-2016
19:34