Senin, 11 April 2016

Cinta Pertama (?)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Cinta pertama..
Aku bertanya pada diriku, siapa cinta pertamaku?
Apakah cinta pertama itu adalah seseorang yang pernah menjadi pacar pertamaku?
Ah.. aku rasa bukan! bahkan kalau di fikir, akupun tidak ada rasa cinta dengan dia.
Lalu, siapa cinta pertamaku?
Bukan dia yang pernah menjadi pacarku, itupun bukan rasa cinta tapi hanya nafsu sesaat!
Bahkan, bukan juga dia yang terakhir menjadi pacarku!
Lalu, siapa?

Cinta pertama..
Aku rasa, aku akan menjadikanmu cinta pertamaku.
Seseorang yang akan datang mengkhitbahku
Seseorang yang akan menjabat tangan ayahku, dan mengucapkan ijab qabul
Seseorang yang kelak akan menjadi misua ku.
Seseorang yang akan menjadi abah dari anak-anakku
Seseorang yang akan menafkahi kami
Seseorang yang akan menjadi pemimpin keluargaku

Cinta pertamaku..
Ku nantikan dirimu menjemputku menjadi bidadarimu
Tak sabar ingin ku katakan bahwa dirimulah cinta pertamaku..

UHIBBUKA FILLAH CALON ZAUJI KU.. <3

Aisyah Ummu Abdillaah
senin, 11-April-2016
19:34


Kamis, 24 Maret 2016

Bismillaahirrohmaanirrohiim

jika kalian membandingkan diri ini dengan yang lain, tentulah diri ini masih sangat jauh dari kata sempurna. jika kalian terus membicarakan keburukanku, tentu tak akan ada habisnya. karna diri ini memang terlalu banyak melakukan khilaf dan salah.

namun, jika yang kalian bicarakan tentang diriku lantas itu tidak benar, bukankah itu namanya fitnah??
lalu kau sebarkan ke orang lain, dari mulut ke mulut membicarakan sesuatu yang tidak benar!
sungguh, luar biasa efek dari fitnah itu. dia bisa membuat hati seseorang teramat sakit, bahkan dia juga bisa membuat hidup seseorang jadi frustasi.
jadi, berhati-hatilah jika membicarakan sesuatu.

diri ini hanyalah seorang yang jauh dari kata sempurna, begitu banyak khilaf dan kesalahan yang di perbuat baik di sengaja maupun tidak di sengaja. diri ini hanya berusaha untuk tunduk dan taat pada Robb-nya.
jikalau kalian tidak mau membantu diri ini untuk berhijrah, setidaknya do'a kan dan berhenti untuk terus mencari kesalahan-kesalahan yang ada pada diri ini.

aku berdo'a untuk kalian, agar Allah memberikan nikmat hidayah. agar kalian tahu bagaimana nikmatnya ujian hijrah itu. dan untuk diriku, semoga di selalu di beri kekuatan untuk bersabar dalam proses penghijraan ini untuk menjadi yang lebih baik. ingatlah pada Rosulullah yang di terpa ujian saat berada di Thoif. beliau di hina, di lempari batu, sampai wajah dan tubunya terluka. namun beliau masih mendo'akan umatnya.


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)

 *Ummu Abdillaah
Makassar, 24-03-2016
Pukul 20:48 #MuhasabahDiri

Jumat, 18 Maret 2016

Makalah Keimanan Kepada Kitab Allah



Makalah PAI

KEIMANAN KEPADA KITAB ALLAH
Disusun oleh kelompok I
Aisyah Arsyad: 15062014009
Asmar:
Sahlin:
Kamaruddin:
 
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN AJARAN 2015-2016







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Percaya kepada kitab-kitab Allah Subhana wa ta’aala hukumnya adalah wajib ‘ain atau wajib bagi seluruh warga muslim di seluruh dunia. Dilihat dari penelitian atau arti definisi, kitab Allah Subhana wa ta’aala adalah kitab suci yang merupakan wahyu yang di turunkan oleh Allah Subhana wa ta’aala melalui rasul-rasulNya untuk di jadikan pedoman hidup umat manusia sepanjang masa. Orang yang mengingkari serta tidak percaya kepada AlQuran di sebut orang-orang murtad.
Daftar kitab-kitab Allah beserta rasul penerima wahyuNya:
11. Taurat di turunkan kepada nabi Musa a.s
22. Kitab Zabur di turunkan kepada nabi Daud a.s berbahasa Qibty
33. Kitab Injil di turunkan kepada nabi Isa a.s berbahasa Suryani
44. Kitab AlQuran di turunkan kepada nabi Muhammad Shallallahu’alayhi wa sallam berbahasa Arab


 


B.    Rumusan Masalah
1.      Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah
2.      Kedudukan dan Fungsi Kitab-Kitab Allah

C.     Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah agama islam, tetapi juga untuk memberikan pengetahuan mengenai iman kepada kitab-kitab Allah.










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Iman Kepada Kitab Allah
Beriman kepada kitab Allah berarti membenarkan dengan sungguh-sungguh apa yang telah di firmankan oleh Allah Subhana wa ta’aala dan di wahyukan kepada manusia yang di pilihnya secara khusus, yakni Nabi dan Rasul-Nya untuk di sampaikan kepada manusia sebagai pedoman dalam kehidupannya.
Adapun kata kitab (كِتَابٌ), yang memiliki bentuk jamak kutub (كُتُبٌ), berasal dari kata ka-ta-ba (كَتَبَ) yang berarti menulis atau mengumpulkan, dan al-kitab (bentuk isim dari kataba) berarti tulisan yang lengkap atau kumpulan tulisan.
Jadi, Beriman kepada kitab-kitab Allah yaitu kepercayaan yang pasti bahwasanya Allah Subhana wa ta’aala, memiliki kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada para hamba-Nya dan bahwa kitab-kitab tersebut terdapat kebenaran, cahaya dan petunjuk bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Kata Al-kitab di dalam Al-Quran dipakai untuk beberapa pengertian:
1.      Menunjukkan semua kitab suci yang telah di turunkan kepada para Nabi dan Rasul.
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke arah barat. Tetapi kebajikan itu ialah (krbajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi...” (QS.Al-Baqarah:177)
2.      Menunjukkan semua kitab suci yang di turunkan sebelum alQuran:
“Berkatalah oramg-orang kafir, “kamu bukan seorang yang di jadikan Rasul. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan antara orang-orang yang mempunyai tentang ilmu kitab.” (QS. Ar-Ra’ad:43)
3.      Menunjukkan kitab suci tertentu sebelum alQuran, misalnya Taurat:
“Dan sungguh, kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa.” (QS. Al-Baqarah:87)
4.      Menunjukkan kitab suci AlQuran secara khusus:
“Kitab (AlQuran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:2)

Disamping AlKitab, untuk menunjukkan kitab-kitab suci yang di turunkan Allah Subhana wa ta’aala kepada para Nabi dan Rasul-Nya. alQuran juga memakai istilah lain, yaitu:
1.      Shuhuf, bentuk jamak dari shahifah yang berarti lembaran. Di pakai untuk menunjukkan kitab-kitab suci sebelum AlQuran khususnya yang di turunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ‘alayhissalam. Sebagaimana yang di nyatakan dalam QS. Al-‘ala ayat 18-19:
“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam shuhuf yang dahulu. Yaitu shuhuf Ibrahim dan Musa”
2.      Zubur, bentuk jamak dari Zabur yang berarti buku. Dipakai untuk menunjukkan kitab-kitab suci yang diturunkan Allah sebelum AlQuran, sebagaimana yang dinyatakan dalam QS. Ali-‘imran ayat 184:
“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah di dustakan pula, mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, zubur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna”
3.      Zabur, bentuk mufrad dari Zubur di pakai khusus untuk menunjukkan kitab suci yang di turunkan Allah kepada nabi Daud ‘alayhissalam, sebagaimana yang di nyatakan dalam QS. An-Nisa ayat 163:
“...Dan kami berikan Zabur kepada Daud”

Beriman kepada kitab-kitab Allah termasuk salah satu rukun iman. Sebagaimana firman Allah Subhana wa ta’aala dalam QS. An-Nisa ayat 136:
“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (AlQuran) yang di turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang di turunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.”

B.      Kedudukan dan Fungsi Kitab-Kitab Allah
Sebagai bagian dari suatu sistem kehidupan yang telah di rencanakan oleh Allah Subhana wa ta’aala adanya kitab suci merupakan bagian pokok dari sistem tersebut. Oleh karena itu, iman kepada kitab Allah di tempatkan menjadi rukun iman yang ketiga. Suatu bagian penting yang tidak saja harus di yakini, melainkan juga patut untuk di syukuri.
Allah Subhana wa ta’aala ada adalah Dzat yang telah menciptakan alam semesta. Dia adalah al-khaliq bagi segala makhluk yang ada. Salah satu makhluk ciptaanNya adalah manusia. Pada manusia inilah Allah Subhana wa ta’aala mempercayakan kehidupan di alam semesta. Manusia mendapatkan amanah dari Allah Subhana wa ta’aala untuk mengatur kehidupan di alam ini (khalifah di bumi).
Karena sifat Rahman dan Rahim-Nya, Allah Subhana wa ta’aala tidak membiarkan dan melepas begitu saja makhluk ciptaan-Nya tersebut. Untuk kebaikan hidup makhluknya, Allah Subhana wa ta’aala memberikan pedoman yang harus di pakai oleh umat manusia. Melalui pedoman-pedoman itu, di harapkan keteraturan dan ketertiban dapat berlangsung dalam kehidupan umat manusia. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kehidupan manusia kalau mereka tidak di beri pedoman dalam menjalankan kehidupannya. Terkait dengan ini, Allah Subhana wa ta’aala berfirman:
“Manusia adalah umat yang satu, maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, supaya ia dapat memberikan keputusan di antara seluruh manusia itu perihal perkara yang mereka perselisihkan” (QS.Al-Baqarah:213)
Kalau kita perhatikan, setiap pabrik dalam memproduksi setiap barang hasil produksinya, maka akan di sertai keterangan atau catatan pada barang tersebut. Pada produk rokok misalnya, ada keterangan tertulis bahaya akibat merokok. Kalau kita membeli barang elektronik, maka kita akan memperoleh buku pedoman atau buku petunjuk bagaimana mengoperasionalkan produk tersebut kalau kita salah dalam mengoperasionalkannya, maka sudah pasti barang tersebut akan rusak bahkan hancur.
Contoh yang lain dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sejak dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara. Disana-sini kita mendapati adanya pedoman-pedoman yang berupa peraturan-peraturan atau perundang-undangan.
Peraturan-peraturan dan perundang-undangan itu adalah untuk kebaikan bersama hidup manusia. Kalau di jalan raya tidak di pasang rambu-rambu lalu lintas, apa yang akan terjadi? Di samping kesemrawutan dan kekacauan, maka kecelakaan pun tidak dapat di hindarkan.
Demikianlah Allah menurunkan kitab-kitabNya melalui perantaraan para Nabi dan Rasul-Nya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Allah adalah Dzat yang mencipta, Dia mengetahui mana yang terbaik untuk manusia. Dia juga mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki manusia. Kitab-kitab Allah memiliki kedudukan sebagai buku pedoman yang berfungsi menjadi petunjuk bagi kehidupan umat manusia.





BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Iman kepada kitab Allah merupakan konsekuensi logis atau sebagai akibat lanjut dari keimanan kepada Allah Subhana wa ta’aala. Artinya, seseorang yang mengimani adanya Allah Subhana wa ta’aala harus juga mengimani adanya kitab-kitab-Nya yang di turunkan kepada manusia melalui perantaraan para nabi dan rasul-Nya. Kitab-kitab Allah ini berisi kumpulan wahyu Allah yang berisi pesan-pesan Allah Subhana wa ta’aala yang harus di pegangi oleh manusia dalam rangka mengisi kehidupan dunianya yang dapat di jadikan sarana untuk mencapai suatu kebahagiaan hidup di dunia ini dan juga kebahagiaan hidup yang abadi kelak di akhirat. Dengan memedomani kitab Allah ini manusia tidak akan pernah tersesat dalam memilih jalan hidupnya, tatapi sebaliknya, dia akan meniti jalan hidupnya dengan lurus, tepat, dan benar sehingga kehidupannya akan teratur dan terarah.
2.      Saran
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Akan tetapi bukan berarti makalh ini tidak berguna. Besar harapan yang terpendam dalam hati, semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsi pada suatu saat terhadap makalah dengan tema yang sama dan dapat menjadi referensi bagi pembaca serta menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.












DAFTAR PUSTAKA
AlQuranul Karim
Abdullah. 29 April 2009. Kitab-Kitab Allah Swt (Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, Zabur, Taurat, Injil, Al Quran)—online.