Selasa, 30 Agustus 2016

Jangan Tunda Hijab Dengan Alasan Belum Siap!



"Yuk Berhijab..."

"mau jilbabin hati dulu"

"pisau, mana pisau?"

"untuk apa?"

"mau jadi dokter bedah, ku belah dadamu lalu ku jilbabi hatimu" -_-

"Gila! maksudnya, pengen jadi orang baik dulu"

"memangnya selama ini kamu orang jahat?"

"Etdaah.. bukaan begitu juga. saya mah orang baik2.."

"teyuss?"

"umm..." (bingung)

***

Ukhty-ku sayang.. Jangan tunda hijab dengan alasan belum siap. Karna siap atau tidak kita selalu akan di hisab. Siap berhijab itu datang karna hidayah taufiq dari Allah, dan taufiq di berikan pada insan yang mendekati Allah.

Maka berhijablah maka akan muncul kesiapan, dekatilah Allah pasti DIA akan memudahkan. Jangan tunda hijab dirimu dengan alasan memperbaiki hati dulu, sungguh perbaikan yang tampak memperbaiki yang tak tampak.

Bila menghijab dirimu saja masih beralasan dan berat, bagaimana menghijab hati yang jelas lebih sulit? Jangan katakan hijab tak menentukan baik buruknya seseorang, karna bukan kita yang membuat aturan namun Allah yang membuatnya.

***

Ukhty-ku sayang.. Karna engkau begitu spesial dan terhormat. Islam menjagamu untuk tetap terhormat dan mulia, mengapa engkau relakan mempertontonkan semua yang tersembunyi yang Allah jagakan untuk memuliakanmu?

Ketika kita bilang "udah berjilbab kok", Alhamdulillaah...
Selanjutnya mari kita perhatikan etika dan tata cara berhijab serta aturan mainnya agar syar'i dan sempurnaaaa.. (ala-ala lagu gita gutawa :D )

Ukhty-ku sayang.. Karna dirimu begitu istimewa dan spesial, maka jagalah!
Laksana botol minuman di mini market, maukah kita menerima botol yang sudah tersingkap segelnya? Tentu ragu karna segel tanda murni dari kontaminasi dan sebagai tanda jaminan mutu. Nah, apatah lagi seorang wanita mulia harus di jaga toh..

Keep your body with hijab/jilbab hingga menutup dada ^_^
Hamasah...

Jumat, 26 Agustus 2016

Betapa...


Hari ini, Jumat 26 Agustus 2016. Suasana hati saya lagi galau melow :( hikshiks..
Entah bagaimana saya mengatakannya, tapi mungkin lirik dari lagu Edcoustik ini bisa mewakili perasaan saya,

Seperti malam gelap tanpa cahaya
Seperti itulah hidupku berjalan
Tanpa arahan tanpa pula tujuan
Entah kemana aku akan bersauh...

Terlalu lama aku melupakanMu
Mungkin terlalu jauh meninggalkan suruhMu
Kini ku lelah akibat ku sendiri
Pantaskan aku kembali padaMu...

Betapa.. betapa.. betapa..
Aku malu padaMu
Bulir bulir dosaku menjulang menggunung
Betapa.. betapa.. betapa.. 
Sempurnanya aku melupakanMu
Betapa.. betapa..
Malu aku yaa Allah..

Rasanya, saat ini saya dalam kondisi bener-bener terpuruk, bahasa kerennya sih lagi futur iman. Imannya pengen di charge :(
Ah, pengen mewek lagi nih. hikshiks..

Sabtu, 20 Agustus 2016

Lima Belas Menit Mati Lampu


Hari ini, Sabtu 20 Agustus 2016, Masih dalam suasana kemerdekaan. Dan sampai malam ini masih ada yang mengadakan lomba, buktinya masih ada ku dengar orang berteriak "1...2..3.." Ada tongmi bunyi lettong -_- *pusing pala Snow White*

Saya mau cerita sedikit tentang peristiwa yang daritadi terjadi, yakni mati lampu. Tapi biasa kalo mati lampu itu, mati juga ki listrikka. Fenomena yang unik memang.
Jadi begini...

Waktu tadi ngajar santri mengaji bersama dengan sang Bapak,

Nabila: "Bunyi na sukun harus dilama-lamakan apabila ketemu dengan huruf ba"
Saya: "yang ke 4?!"

Selagi asik-asiknya kami muraja'ah pelajaran tajwid, tiba-tiba dunia menjadi gelap gulita alias telah terjadi mati lampu. Sontak semua santri panik dan menjerit. Termasuk Nabila dan Tiara yang saat itu saya ajar.

"Jangan ada yang bergerak, semua diam di tempat, jangan ada yang bergerak" begitu teriakan saya, hhah. *Sok Tegas* Namanya juga anak-anak, teriakan saya tidak di tanggapi dan tidak di cerna baik-baik -_- . malah tambah panik dan saya tambah puyeng.

"Kaaak"
"Kaaaaaaaaaaak"
"Kaakkk"

Subhanallah, bocah-bocahku ini -_-

Dan sekali lagi saya mencoba menenangkan mereka dengan suara yang sedikit lebih keras, "Jangan ada yang bergerak, semua tetap di tempat!"
Bapakpun sama denganku, menyuruh para santri untuk tetap tenang.

5 menit berlalu, cahaya tak kunjung datang. tak bantuan senter atau lilin, hanya ada cahaya dari wajah saya *hhah ini mah kePDan* para santri mulai merasa gelisah.

"Kaaaak, mana tasku?"
"Kaaaaaaaaaaak, iqro ku mana?"
"Kaaak!"
"Kaakk manaki?"

Yaa Allah, bocah.. sudah tau gelap gulita malah bikin pusing. Setelah 10 menit berlalu akhirnya cahaya yang di nanti datang juga, cahaya lilin yang di bawa oleh om saya yang juga santri-santri saya biasa memanggil beliau dengan sebutan "Kakek". Lalu ada beberapa santri saya yang bertanya, dan pertanyaan nya pun sama, 

"Kak, kenapa bisa mati lampu?"

Mana saya tau sayang -_- tanya sama PLN. kah sama-sama jaki juga tadi di mesjid toh? yang jelas bukan saya yang kasih mati lampu. suerr ka! Suerr ka bukan ini jawabanku di santriku, ckckck. Waktu itu saya menjawab dengan kata "tidak tau". karna memang tidak kutau.

Bapakpun menyuruh para santri untuk mengemas semua barang-barang mereka. Dan belajar mengaji di hentikan, serta para santri sebaiknya pulang lebih awal.

"Semuanya bisa pulang." Kata guru besar A.K.A Bapak " :D

Dengan memegang lilin, bapak mengantar para santri sampai kedepan pintu mesjid. Dan tidak lupa mengingatkan kepada mereka untuk hati-hati dijalan. *So sweeet ^^ * Setelah para santri pulang semua, saya juga pamit pulang.
Ketika telah berada di luar mesjid, sudah banyak ku lihat pemandangan anak-anak mengerumuni api (karna ada temanna bawa tai lilin). Dan pemandangan lainnya yaitu ada anak kecil dan juga para remaja, ada juga orangtua yang sedang memegang android mereka masing-masing, memanfaatkan lampu senter yang ada di gadget tersebut.

Batin saya melihat pemandangan tersebut, "Jaman dulu kalo mati lampu pegang lilin, jaman sekarang pegang android." #TerbaitMeman. Alhamdulillaah masa kecil saya bahagia ketika mati lampu melihat banyak lilin menyala, masa kecil saya bahagia :')

15 menit waktu mati lampu, dan saat yang di tunggu-tunggu  akhirnya muncul juga. Lampu kembali menyala begitupun listrik, Baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa sontak berteriak kegirangan, dan mengatakan, "Horrreeeeeee", Adik saya, Syahrul juga bertepuk tangan.

Batin saya pun kembali berkata, "mati lampu jaman dulu dan jaman sekarang masih ada persamaannya, sama-sama bahagia kalau lampunya sudah menyala" ^_^

Jumat, 19 Agustus 2016

Untuk Sahabat Kami (Aku) Yang Memilih "Pergi"

Kurang lebih sudah hampir 2 tahun kita tidak saling menyapa, bahkan selama itu juga kamu tiada kabar. Kepergianmu bagaikan ditelan bumi, jauh kedalam sampai kami pun tak bisa menemukan jejakmu lagi. Bukankah kita memulai persahabatan ini atas dasar sayang?

Entahlah, itu hanya bagi kami yang masih rindu atas kehadiranmu. Kami ingin bertemu denganmu lagi, menuntaskan rasa rindu yang sudah memuncak. Tapi, sampai sekarang kami juga belum bisa menemukan keberadaanmu. Yang kami tahu, sekarang kamu sedang sibuk-sibuknya bekerja di sebuah toko ternama.

Tak bisakah kamu mengirim kabar pada burung merpati atau hanya sekedar menitipkan rindu pada angin. Tapi yang pasti, kami selalu mendoakanmu di setiap sujud kami.
Oh ya, sebenarnya kami ingin segera mengubur kenangan tentang dirimu yang tak tau diri itu. Tapi kami tak bisa atau memang kami tak ingin bisa. Sebagai sahabatmu yang berbagi suka-duka di waktu kita masih sekolah dulu, di Madrasah Aliyah dengan seribu problema.

Masih ingatkah kamu perkataan mu di saat detik-detik kita setelah perpisahan, dan memulai untuk melangkah mencapai impian kita masing-masing? Kamu berkata bahwa kita harus tetap menjalin komunikasi walau sesibuk apapun kita. Ingat! itu kamu loh yang bilang. Namun nyatanya, kamu sendiri yang memutuskan komunikasi pada kami.

Kemana perginya sahabat kami yang dulu? Masihkah kamu mengingat kami? Sudah tak perlu dijawab, kamu tentu masih mengingat kami, bukan? Atau kamu sudah tak ingin tahu apapun mengenai kami.
Kamu bilang kami adalah sahabatmu, lalu mengapa kamu tak pernah memberi kabar tentang bagaimana hidup yang sedang kamu jalani sekarang? 
Bukankah Persahabatan itu seperti Tangan dan Mata. Ketika tangan terluka, maka Matapun ikut menangis, dan ketika Mata menangis, maka Tanganlah yang selalu bersedia untuk menghapus air mata yang jatuh.

Aku merindukan kebersamaan kita dahulu, apa kamu sudah lupa? Selalu ada moment kebersamaan yang kita abadikan dalam sekedar foto selfie. Kamu ingat, awal kita saling kenal, hingga kita putuskan untuk menyebut "ke-kita-an" kita sebagai "sahabat"
Betapa seringnya kita melakukan hal bersama. Mulai dari main bareng, makan, cerita tentang masa depan kita, sholat dhuha di musholla, banyak sekali. Karena kebersamaan kita tak pernah absen dari keberadaan kita, ada aku ada kalian. -Aisyah Arsyad-

Untuk Sahabat kami yang memilih pergi, Kembalilah segera…..
Kami merindukan sahabat kami yang dulu.

Kamis, 18 Agustus 2016

Dipertemukan kembali; Album foto




Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hari Jumat adalah hari yang paling baik di antara hari lainnya. Seperti yang disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam, ”Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari Jum’at, (karena) pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim).


Tepat di hari ini, Jumat tanggal 19 Agustus 2016, masih dalam suasana kemerdekaan. Aku di pertemukan kembali dengan benda yang telah lama menghilang bertahun-tahun lamanya *Terharu* Yup! Sebuah album foto yang tentunya berisi foto-foto (nassami foto masa uang :D ) Album foto ini saya beli sejak masih duduk di bangku SMP dengan hasil uang nabung berhari-hari, hhah...

Banyak kenangan dalam album itu.. :') 


Mulai dari foto Emak Bapak waktu jadi pengantin beserta keluarga besar. Foto ini saya ambil di lemari emak, wakti itu fotonya gak di taruh di album, jadilah sebab utama saya beli album gegara ini foto. Kan sayang kalo kotor.


Foto emak waktu masih muda, hhih cakep yakk. kek diriku ^_^ posenya aja masih jadul, jari telunjuk di simpan di bibir. Terus emak kalo foto pasti masang muka tegang, hhah. Emak yang dulu dan sekarang mah tetap cantik, emaknya siapa dulu dumsss! #KecupEmak


Foto almarhumah Nenek dan almarhum Uwak. Sosok yang menyayangi diriku dan juga paling ku sayangi. Yang menceritakan aku tentang masa kecil bapak, pertemuan emak dan bapak, yang selalu memanjakan dan memberikanku nasehat. Mereka adalah orang tua dari Bapak, Sungguh kepergian mereka untuk selama-lamanya terutama sang Nenek membuatku galau tingkat-tingkat, nyesek, dan butuh waktu berhari-hari untuk bisa mengikhlaskan kepergiannya. Sedangkan kakek dan nenek yang jadi orang tua Emak aku tidak sempat bertemu mereka. Kakek dari Emak meninggal waktu emak masih muda, dan bidadari emak (aku) belum lahir, sedangkan Nenek dari Emak meninggal waktu aku masih polos-polosnya, dan pertemuan kami cukup singkat di sebuah rumah sakit saat Nenek dirawat.
Nenek, Uwak, dan Kakek ku semoga kelak kita dapat berjumpa dan berkumpul bersama di Surga yang sama di pertemukan kembali menjadi sebuah keluarga. Aku sangat rindu kalian. *Mewek*


Waktu jaman-jaman SMP, Hhhah jaman-jamannya alayers.



Masa-masa SD gue kayaknya bisa di bilang masa penuh petualangan. Jaman SD mah cuma beberapa orang teman yang punya Hp apalagi yang ada kameranya. hhah. Yang punya hp berkamera cuma Mayang, yang entah sekarang dimana keberadaannya *Where are you?* Waktu itu kami rela berjalan kaki ke tukang cuci foto pulang sampe maghrib, sampe di rumah sapu lidi melayang. hhah. Dan inilah hasilnya, foto kami yang jadul. hhah



Dan entah kenapa, foto cogan ini ada di album fotoku juga?? Hhihi.. Jaman SD-SMP idola saya mah anak-anak idola cilik, sama si Ranz Kyle. Saya geli sendiri ketika melihat tampang mereka di album :D Kok bisa gitu? hhah.. *Geleng-geleng kepala* Idola sama cukup Allah dan Rasulullaah, juga Bapak saya ^_^

Rabu, 17 Agustus 2016

Hidup, kita yang jalani orang lain yang berkomentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alkisah, ada seorang wanita pedagang yang mempunyai wajah yang cantik, tutur kata yang santun. Pedagang cantik itu bak wanita muslimah yang anggun dengan pakaian syar'i nya (gamis lengkap dengan kerudung gede). Sejuk mata memandang ketika melihat  senyum manis di wajahnya yang menampakkan lesung pipit yang indah. Ia biasa menjajakan jualannya setiap sore hari.

Dan pada hari itu, ada seorang ibu-ibu yang bertanya padanya dengan nada merendahkan,

"Neng, gak malu yah jualan? Cantik-cantik kok jualan gorengan"

Dengan senyum manis, lalu wanita pedagang itu berkata,

"Nggak kok, Bu. Kenapa saya harus malu dengan menjual gorengan? apa ada yang salah dengan menjual gorengan? Lagian menjual gorengan kan halal Bu, saya juga bisa dapat penghasilan yang lumayan. Daripada nganggur di rumah, dan nggak ngapa-ngapain, bisanya bikin mama repot yah mending saya jualan. hheh"

"Tapi kan sayang, kamu cantik. Gak malu kalo ada cowok ganteng ngeliat kamu? Gengsi Neng!"

*Enngg* (Bingung mau jawab apa)

Wanita pedagang itu hanya bisa diam, bukan karna termakan omongan itu. Hanya saja menurutnya lebih baik diam. Dan ibu itu kembali berkata,

"Neng, kok mau sih jualan kek begini?"

"Subhanallaah, Bu. Tau gak pengusaha-pengusaha sukses itu dulunya yah jualan kek begini juga, saya mau jadi pengusaha Bu, yah harus di mulai dari bawa dulu toh, siapa tau aja di kemudian hari mudah-mudahan saya jadi pengusaha kuliner yang sukses, Aamiin. Do'ain yah Bu."

Tanpa berkata-kata, Ibu itu langsung pergi meninggalkan pedagang itu. Nafas lega, dalam hati ia meminta kepada Allah kekuatan untuk bersabar.

5 Tahun kemudian, Alhamdulillaah wanita pedagang itu sukses menjadi pengusaha kuliner. Berkat kerja keras dan Doa yang selalu ia panjatkan. Dan ia kembali di pertemukan dengan si Ibu yang dulu melontarkan beberapa pertanyaan nyelekit.

"Wah, Neng. Alhamdulillaah sudah sukses yah.."

"Eh si Ibu, iya Alhamdulillaah..."

"Tapi kok belum nikah? percuma Neng pengusaha sukses tapi belum nikah. Kan gak lengkap rasanya."

Mencoba tetap bersabar menanggapi perkataan si Ibu tersebut,

"Yah, jodoh gak bakalan kemana kok Bu. Bukankah Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Cuma waktunya aja yang belum tepat untuk bertemu pasangan saya."

Beberapa bulan kemudian, wanita pedagang yang telah menjadi pengusaha sukses itu akhirnya menemukan sang pangeran untuk mengisi hari-harinya. Selang beberapa waktu setelah pernikahan ia merintis usahanya bersama suaminya. Dan Alhamdulillaah usahanya terus berkembang dan sudah mempuyai cabang di berbagai kota.
Dan lagi-lagi dia bertemu dengan si Ibu yang super rempong itu,

"Eh Neng, wah Alhamdulillaah yah kamu udah nikah, beruntung laki-laki yang dapatin kamu, sudah cantik, sukses, sholeha, dapat suami ganteng pula, sesuatu banget."

"Ah si Ibu bisa aja heheh"

"Tapi, yah Neng, kurang lengkap kalo gak ada anak atuh. Masa udah berapa tahun nikah belum punya anak juga?". Lagi-lagi si Ibu itu berkata tanpa memikirkan perasaan orang. Wanita itu hanya bisa tersenyum dan minta do'a aja dari si Ibu itu, kemudia pergi meninggalkannya.

2 tahun berlalu, wanita pedagang itu di karuniai seorang anak perempuan yang lucu dan menggemaskan, usahanya pun semakin sukses. Dan suaminya semakin mencintainya...

Setelah anaknya telah berusia 5 tahun, pedagang itu mengajak anaknya untuk berjalan-jalan di salah satu Mall ternama di kotanya, bersama sang suami. Dan lagi-lagi atas izin Allah dia bertemu dengan orang yang selalu ngomentarin hidupnya. Kali ini dia tidak akan mendengar celoteh dari orang itu,

"Eh Neng, wah sudah lama gak ketemu. Ini anaknya yah?"

"Iya Bu, hheh"

"Alhamdulillah yah, dulunya kamu cuma pedagang gorengan, terus jadi pengusaha sukses, punya suami ganteng, anak cantik persis kayak kamu. Tapi.."

Wanita pedagan itu langsung memotong perkataan Ibu tersebut,

"Iya Bu, Tapi saya kesana dulu yah Bu, Maaf lo gak bisa ngombrol lama-lama, Assalamu'alaykum" sambil mempercepat langkanya.

Pikirnya, daripada makan ati lagi, yah mending kabur!

Lalu anak si pedagang bertanya,

"Umi, yang tadi itu siapa?"

"Teman ibu sayang"

"Kok tau banget tentang Umi?

"Yah, itulah Nak. Hidup emang begini. Kita yang jalani orang lain yang berkomentar" sambil membuang nafasnya, dan lirih mengucapkan "astaghfirullaah..."

Lalu wanita pedagang itu berkata pada anaknya, "Sayang, kelak jika kau tumbuh dewasa jadilah orang yang selalu sabar mengahadpi berbagai macam karakter seseorang. Fokuslah pada penilaian Allah, bukan penilaian manusia."

Tamat!

Selasa, 09 Agustus 2016

Mama, You're the Queen of My Heart




Bismillaahirrahmaanirrahiim

Aku dan Mama, hampir tak ada privasi diantara kami. Apapun yang ku lakukan, seberat dan sekecil apapun masalahku, mama selalu mendengarkan keluh kesah ku. Mendengarkan kisah asmaraku, mendengarkan cerita pertengkaranku dengan teman-teman ku, mendengarkan pengalamanku ketika pergi di suatu tempat yang baru aku kunjungi. Mama adalah orang yang siap sedia menjadi pendengar untukku.

Begitupun sebaliknya, mama pun selalu menceritakan keluh kesahnya, bahkan tak sungkan untuk meminta saran dan pendapat dari anak gadisnya ini. Awalnya, aku dan mama tidak begitu akrab. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usiaku, aku menyadari bahwa mama adalah everything untukku.

Ketika mama mengandung adikku, Syahrul. Aku melihat secara langsung bagaimana perjuangan mama, mulai saat dia mengalami muntah-muntah, mengandung, sampai melahirkan. Mama adalah sosok yang luar biasa, sangat luar biasa. Dulu, mama sering memarahiku dan aku sempat berfikir mama tidak sayang dengan aku Dan ketika Syahrul di lahirkan, aku melihat air mata keluar dari mata mama, air mata haru dan bahagia. Disitulah fikiran "mama tidak sayang denganku" hilang dalam benakku. Mama sayang padaku, sayang dengan semua anak-anaknya. Terlihat jelas ketika anaknya telah lahir ke dunia. Semua paradigma negatif tentang mama yang selama ini ku fikirkan, ah.. bodohnya aku! Mama.. maafkan anakmu ini.

Aku ingin melihat mama mengenakan kain kerudung, pasti akan terlihat cantik. setiap kali aku menanyakan, "Maa, kapan pakai kerudung?", Mama dengan malu menjawab, "Nanti, kalau Syahrul sudah besar.". Ah.. mama ku ini. Aku selalu mendoakanmu agar hatimu tergerak untuk memakai kerudung, karna aku sayang mama, aku ingin bersama-sama mama tidak hanya di dunia, tapi di akhirat kelak. Aamiin.., Berkumpul kembali bersama keluarga kecil kita, Mama, Bapak, Fatimah, Syahrul, dan Aku. Semoga dalam waktu yang dekat ini, mama akan bilang padaku, "Mama sudah mantap memakai kerudung, Nak!". Bahagianyaa... Love you maa..

Maa..
Aku minta maaf untuk semua yang pernah ku lakukan padamu, yang selalu mengecewakanmu, membuat marah, bahkan aku pernah membuatmu menitikkan air mata karna ulahku.
Maa..
Maafkan aku yang sering bertutur kata yang tidak santun kepadamu, maafkan aku yang pernah membentakmu. Membuat hatimu sakit, sungguh maafkan aku...

Terima kasih untukmu, mama..
Wanita yang paling berani yang pernah mempertaruhkan nyawanya untukku, untuk adik-adikku.
Uhibbuki Fillaah Umi, Saranghae Eomma, I love You Mama.. <3